story of me

pitcay:

Pohon mapple. Semoga suatu saat bisa melihat eskotis nya pohon ini secara langsung.

pitcay:

Pohon mapple. Semoga suatu saat bisa melihat eskotis nya pohon ini secara langsung.

Hujan Berhenti

Menderu seperti geraman mesin truk

atap plastikku rubuh, tak kuat menyangga debit rupanya

Tamanku menjelma danau kiini

Lima menit saja

Lalu pertunjukkan usai

9224 GKU Timur ITB, saat ujian Sistem Instrumentasi

07 Mei 2013

11:11

Bandung

What They Don’t Talk About When They Talk About Love (Trailer) (by cinesuryapic)

must watch movie

Hari ini setahun yang lalu.

Bersamaan dengan terucapnya kalimat sihir itu, terbawa aku ke masa satu tahun lalu, hari yang sama. Ada aku disana. Bersama seseorang, yang kini tak lagi bersamaku.

Seperti mantra pembuka dua dimensi waktu, hari ini dan hari ini di tahun lalu, menjadikanmu seorang time traveller. Tetapi Sungguh aneh, karena hanya terucap ketika sedang kehilangan. Berbagai macam kehilangan.

Kehilangan jiwa dan raga seseorang, mungkin karena maut.

Kehilangan raganya walaupun jiwanya masih ada, seperti ketika terpisah karena jarak.

Kehilangan jiwa seseorang walau raganya masih dekat denganmu, ketika sedang sakit.

Atau bahkan kehilangan kebersamaan dengannya, kehilangan senyumnya, suaranya, caranya dia berbicara denganmu, kehilangan caranya mencarimu ketika kau menghilang dari pandangan matanya, kehilangan caranya menunggu tulisan-tulisanmu. Kehilangan seseorang karena dia bersama yang lain.

Hari ini satu tahun yang lalu.

Tetap menjadi kalimat ajaib mengembalikan memori indah dengan seseorang yang tak lagi bersamamu.

Atau mungkin kalimat ini sekarang menjadi obat penahan rasa sakit, bagi hati yang terluka. Hanya menahan, bukan menghilangkan sakit. Sifatnya sementara, ya namanya juga obat. Tetapi tetaplah ajaib. Aku rasa semua orang pernah mengucapkannya, melafalkannya dalam doa.

Teruntuk seseorang yang kukenal pertama kalinya 6 Juni 2012.

Bandung, 5 Mei 2013

16:06

Penjudi Rindu

Bukan Permainan katanya. Lalu apa? Sebuah perjudian?

Hidup itu pilihan, katanya. Lagi-lagi katanya. Siapa tahu hidup yang dipilihnya adalah hasil perjudian dengan semesta. Bukan sembarang berjudi. Dihitungnya pengorbanan, pencapaian, peluang berhasil, seperti Las Vegas. Tak hendak mendahului takdir, bahkan Tuhan. Hanya memilih, berharap terbaik, bersiap untuk terburuk. Judi, waktu dipertaruhkan.

Pun rindu, dijudikannya.

Dibiarkannya dia jatuh terlalu dalam. Cinta yang tersurat, tersirat, seperti akan terbalas tetapi tidak. Waktu berkonspirasi. Atas nama cinta yang tersirat, kini dirinya masih sendiri, sementara seorang disana memilih dengan yang lain.

Seperti paru-paru yang penuh air, menyesakkan hati hingga tak lagi bisa bernapas. Walau sesak, tak pernah ia berhenti merindukan udara.

Makin dibunuh cinta itu, makin hiduplah ia” kata seorang Benny Arnas. Maka membunuh cinta tidak dipilihnya.

Ia seorang penulis. Cintanya pada seseorang tumbuh oleh suratan dalam sebuah media sosial,  Ia memilih bertaruh. Tak lagi ditulisnya mengenai seseorang itu pada jejaring sosial. Tidak, bahkan sekata pun. Ia tahan rindunya pada udara, pada seorang itu.

Sesederhana menunggu, semenyesakkan menahan tarian jemari di atas tuts sebuah komputer lipat.

Lalu apa yang akan didapatnya? Sesuai harapan terbaik, yang telah dihitungnya. Seseorang itu berbalik merindukannya, merindu pada suratan hati pada jejaring sosial. Pada tulisan-tulisannya, pada cerita panjangnya, curahan hatinya. Pada… dia. Setidaknya walau seorang itu sudah tak sendiri, perjudiannya memberi harap, rindu masih ada.

Ini kisah seorang penjudi rindu, yang memenangkan perjudiannya setelah menunggu selama tiga bulan tujuh belas hari.

Teriring rindu yang kukirim bersama hujan Selasa malam kota Bandung. Kemuning.

Bandung, 23 April 2013

21:46

di kamar

taktophoto:

Paper Cuts – Rolls by Anastassia Elias

(via inosajawes)

The Temper Trap - Sweet Disposition [OFFICIAL VIDEO] (by TheTemperTraptv)

“Aku jatuh cinta, pada seseorang yang hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja.” Hanya Isyarat, Dee Lestari.

Hari ini…

Rasanya aku menjadi tokoh utama cerita “Hanya Isyarat” dalam Rectoveso, Dee Lestari.

Melihat bidang punggungnya. Melihat tawa dari balik punggung itu, melihat lekuk wajahnya ketika dia melihat ke samping.

Hanya saja, aku sudah tahu warna matanya. Karena hanya di hari ini, aku menikmatinya hanya sebatas punggung.

Aku ingat caranya mengendarai motornya, caranya menghisap rokok di sebuah kantin tempo hari, caranya bertutur dan sesumbar. Ingat cengiran khasnya, dan… pandangan matanya.

Tetapi, tidak semua perasaan harus terucap. Ia akan tetap tersimpan hingga kautemukan rasa lain yang serupa, hanya bukan pada orang yang sama.

Ketika kau terjatuh pada hati temanmu. Ketika romansa menjadi bumbu persahabatan.

Bumbu, seperti yang kau tahu baik, jika digunakan kadar yang pas. Pun aku. Cinta yang terlalu banyak kadarnya, membuat rasa persahabatan tak keruan, bahkan rusak. Dan aku, tak ada keinginan kehilangan tawa, cerita, pandangan matamu.

Ya, lebih baik begini. Ini cukup.

23:46

2013, 16th April

Kelsi.

P.S: Terinspirasi dari Hanya Isyarat (Rectoverso - Dee Lestari).

Didedikasikan untuk seseorang yang hari ini kunikmati sebatas punggungnya saja.

Langit Berpesta

Langit tengah berpesta, kurasa.

Tak henti diguyurkannya air ke Bumi Parahyangan. Mungkin para penghuni langit sedang bermain air karena bahagia di sana.

Belum lagi kilatnya, senja terasa siang. Terang seperti penuh bunga api. Apa penghuni langit merayakan tahun baru malam ini?

Terang dan redup bergantian. Ataukah langit Parahyangan disulap menjadi kelab malam bermusik hujan?

Lalu bagaimana langit di pesisir Lampung senja tadi? Tak berhujan katanya. Apa langit Lampung berpesta juga?

Ah, aku percaya hanya ada satu langit. kapan, bagaimana, dan dari belahan bumi manapun terlihatnya, penghuni langit selalu bergembira. Pun aku, dan kamu. Bahagia dari tempat yang berbeda, menatap langit yang sama. Langit yang berpesta.

Teruntuk langit pertengahan April kota Bandung yang berhujan sejak senja, dan senja tak berhujan di Lampung sana.

Bandung, 15 April 2013

Kelsi

one day, i’ll have my own library :’)

Krisdayanti - I’m Sorry Goodbye (Official Video Clip) (by KrisdayantiOfficial)

“…Aku tak bodoh seperti kekasihmu yang lain…

…So thank you so much I’m sorry goodbye…”

Dubai…

karena 120 bukan untuk 102